Prodi Doktor Ilmu Kebencanaan USK Gelar Workshop Sinkronisasi VMTS dan Kurikulum

BANDA ACEH – Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala (PS DIB USK) menyelenggarakan Workshop Sinkronisasi Visi Misi Tujuan Sasaran (VMTS) dan Kurikulum pada Kamis, 30 April 2026, di Ruang Teleconference Sekolah Pasca Sarjana USK, Darussalam, Banda Aceh. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan arah pendidikan selaras dengan tantangan kebencanaan global dan kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholders).

Workshop yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh para stakeholders PS DIB yaitu: BPBA, BPBD Kota Banda Aceh, BPBD Kabupaten Aceh Besar, BPBD Aceh Barat, BPBK Aceh Jaya, BPBD Pidie Jaya, BPBD Bireuen, Dinsos Provinsi Aceh, Dinsos Kota Banda Aceh, Dinsos Kabupaten Aceh Besar, Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh/Blang Bintang), Stasiun Klimatologi (Staklim) Aceh (Indrapuri, Aceh Besar), Stasiun Geofisika (Stageof) Kelas III Aceh Besar (Mata Ie), dan Stasiun Meteorologi Maimun Saleh Sabang serta dosen dan mahasiswa DIB. Kehadiran peserta berperan dalam merumuskan kembali kurikulum yang adaptif, inovatif, dan berbasis riset transdisipliner.

Ketua Program Studi DIB USK, Prof. Dr. Muksin, M.Si, M. Phil, menegaskan bahwa kurikulum baru akan lebih fleksibel namun tajam secara kualitas. “S3 tidak akan dibebani banyak mata kuliah teori, melainkan fokus pada topik khusus dan riset studi kasus yang berkontribusi langsung pada pengurangan risiko bencana (PRB),” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa aspek antropologi akan dimasukkan dalam filsafat ilmu untuk memperkuat karakter lulusan.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Direktur Akademik USK, Dr. Mhd. Ikhsan Sulaiman, S.TP., M.Sc., IPU, ASEAN. Eng. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan DIB USK merupakan PS doktor pertama di Indonesia pada bidang kebencanaan. Masukan dari para mitra sangat diharapkan bagi pengembangan PS DIB ke depannya.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga sesi yang terdiri dari pemaparan materi (expert talk) oleh Anggota Pusat Pengembangan Audit dan Penjaminan Mutu, LPM USK, Dr. Ir. Syifaul Huzni, ST., M.Sc, dan Praktisi Pengurangan Risiko Bencana, Dr. Ahmad Dadek, SH, MH. Pada sesi kedua, diskusi dengan para stakeholders dipandu oleh Alfi Rahman, S. I.Kom., M.Si., Ph.D. Pada sesi ketiga, seluruh dosen DIB menyusun beberapa dokumen untuk menyingkronkan antara VMTS dan kurikulum PS DIB. Dokumen tersebut terdiri VMTS yang disinkronkan, matriks matrik VMTS dan Profil Lulusan, matriks Profil Lulusan dan capaian pembelajaran lulusan (CPL), serta matrik CPL dan mata kuliah.

Melalui workshop ini, ada tiga poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi intensif tersebut:

  1. Relevansi Kurikulum: Mengintegrasikan teknologi terbaru seperti AI dan Big Data dalam pemetaan risiko bencana.
  2. Kebutuhan Industri & Pemerintah: Menyesuaikan capaian pembelajaran dengan standar kompetensi yang dibutuhkan oleh BNPB, NGO internasional, dan lembaga riset.
  3. Internasionalisasi: Memperkuat jejaring riset global agar lulusan memiliki daya saing di level internasional.

Dalam sesi diskusi, Yudhi Satria dari Forum PRB Aceh menyoroti bahwa ilmu kebencanaan adalah kerja tim (teamwork). “Kebencanaan itu mencakup semua aspek, mulai dari teknik, social engineering, kebijakan, hingga hal yang dianggap sederhana seperti tata boga untuk logistik bencana dan seni tari. Intinya adalah kerja multi, inter, dan transdisiplin,” ungkapnya. Pihak praktisi dan pemerintah daerah memberikan masukan agar lulusan DIB menjadi jembatan solusi.

Yanyan Rahmat, A.KS, M.Si dari Dinas Sosial Aceh mengusulkan agar mahasiswa DIB dapat memberikan pendampingan di setiap SKPA. “Kita butuh inovasi nyata, seperti penggunaan AI atau drone untuk memantau logistik saat banjir. Kajian DIB harus menjadi patron bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan secara profesional,” tegasnya. Dukungan serupa datang dari Pak Fazli (Badan Penanggulangan Bencana Aceh; BPBA) yang mengusulkan program magang atau KKN bagi mahasiswa doktoral agar ilmu mereka langsung teraplikasi di kedinasan.

Sementara itu, Muhammad Irfan Islami, S.Tr, M.Si dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Aceh menekankan pentingnya riset aplikatif terkait perubahan iklim dan hidrometeorologi. “Kondisi iklim yang rusak sulit dikembalikan, maka riset DIB harus mampu menawarkan solusi praktis seperti perbaikan drainase dan sistem peringatan dini yang efektif,” tuturnya.

Categories:

Tags: