Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan USK dan TDMRC USK Berkontribusi dalam Penyusunan PRRKA Aceh 2026–2028

Banda Aceh, 6 Juli 2026 – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui para pakar yang tergabung dalam Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan USK dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) memberikan kontribusi akademik dalam penyusunan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Kewenangan Aceh (PRRKA) Tahun 2026–2028. Dokumen strategis ini disusun sebagai pedoman Pemerintah Aceh dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah Aceh pada akhir tahun 2025. Kontribusi tersebut merupakan bagian dari komitmen Universitas Syiah Kuala dalam mendukung penyusunan kebijakan publik berbasis ilmu pengetahuan (evidence-based policy) melalui penyediaan kajian ilmiah, rekomendasi teknis, serta pendampingan penyusunan dokumen strategis daerah.

Dalam proses penyusunan PRRKA Aceh 2026–2028, sejumlah pakar dosen DIB USK dan TDMRC dilibatkan sesuai dengan bidang keahlian masing-masing, yaitu Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil., Dr. Ir. Yunita Idris, S.T., M.Eng.Structure, Prof. Dr. Ir. Azmeri, S.T., M.T., Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, M.T., IPM,  Alfi Rahman, S.I.Kom., M.Si., Ph.D., serta Rizanna Rosemary, S.Sos., M.Si., MHC. Ph.D., Keterlibatan para pakar tersebut mencerminkan pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan aspek teknik, hidrologi, kebijakan publik, komunikasi risiko, kesehatan masyarakat, serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Melalui berbagai pembahasan teknis dan substantif bersama Pemerintah Aceh, tim pakar memberikan masukan terhadap penyempurnaan analisis permasalahan, isu strategis, arah kebijakan, strategi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, serta penguatan prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable, pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan yang lebih inklusif. Berbagai rekomendasi yang dikembangkan antara lain mencakup penguatan rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis risiko, perlindungan kelompok rentan, integrasi perubahan iklim dalam pembangunan kembali, penguatan tata kelola dan kolaborasi multipihak, pengembangan sistem data kebencanaan yang terintegrasi, serta peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun ketahanan terhadap bencana. Selain aspek pembangunan fisik, tim pakar juga mendorong agar rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi momentum transformasi pembangunan Aceh melalui penguatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management), komunikasi risiko, pemanfaatan hasil riset dan inovasi, serta sistem monitoring dan evaluasi berbasis bukti. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan proses pemulihan yang tidak hanya cepat, tetapi juga lebih aman, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Keterlibatan para pakar Dosen Prodi DIB USK dan TDMRC dalam penyusunan PRRKA Aceh 2026–2028 menunjukkan peran aktif Universitas Syiah Kuala sebagai mitra strategis Pemerintah Aceh dalam mendukung penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, PRRKA Aceh diharapkan menjadi landasan yang kuat dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak sekaligus memperkuat ketahanan Aceh menghadapi berbagai risiko bencana di masa mendatang.

Categories:

Tags: