Banda Aceh, 17 Juli 2026 – Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB) USK memperkuat sinergi dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh melalui pertemuan audiensi yang berlangsung di Kantor BPSDM Aceh. Pertemuan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia serta mendukung peningkatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Aceh. Delegasi TDMRC dan DIB USK dipimpin oleh Direktur TDMRC dan DIB USK, Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil., didampingi oleh Alfi Rahman, S.I.Kom., M.Si., Ph.D., Rizanna Rosemary, S.Sos., M.Si., MHC., Ph.D., Dr. Yopi Ilhamsyah, M.Si., Novia Mehra Erfiza, S.TP., M.Agric., Dr. Syahrul Ridha, dan Rizka Puspitasari, M.Si. disambut oleh Kepala BPSDM Aceh, Marthunis, S.T., D.E.A., beserta jajaran. Dalam pertemuan tersebut, TDMRC USK memaparkan sejumlah arah strategis dalam bidang penelitian, pendidikan, pelatihan, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia kebencanaan.
Salah satu aspek penting yang menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut adalah keberadaan Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan USK. Program studi ini memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi multidisipliner dalam memahami risiko bencana, pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan pascabencana. Kolaborasi antara TDMRC, Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan, dan BPSDM Aceh dinilai memiliki potensi besar dalam menjembatani kebutuhan pengembangan kompetensi aparatur dengan pengetahuan dan hasil penelitian di bidang kebencanaan. Sinergi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan pelatihan, peningkatan kompetensi, penguatan kapasitas kelembagaan, serta pemanfaatan hasil riset dan inovasi untuk menjawab kebutuhan kebencanaan di Aceh. Direktur TDMRC dan DIB USK menyampaikan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan salah satu elemen penting dalam membangun ketangguhan daerah. Pengetahuan kebencanaan perlu diterjemahkan menjadi kompetensi dan kemampuan praktis yang dapat diterapkan oleh pemerintah, lembaga, maupun masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. TDMRC dan DIB USK sendiri memiliki pengalaman dalam menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan. Salah satunya terlihat dalam respons terhadap banjir yang melanda Aceh pasca-Siklon Senyar pada 2025, ketika TDMRC dan DIB USK turut berkontribusi dalam penyediaan pasokan pangan darurat bagi masyarakat terdampak.


Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi kebencanaan tidak hanya penting dalam konteks akademik, tetapi juga harus mampu diterapkan untuk memberikan solusi konkret dalam situasi darurat. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan USK yang mendorong penguatan kompetensi dan kemampuan analitis serta praktis dalam pengelolaan risiko bencana. Dalam audiensi tersebut, TDMRC dan DIB USK dan BPSDM Aceh juga membahas peluang pengembangan program bersama yang berbasis pada kebutuhan daerah, dengan memanfaatkan keahlian akademisi, hasil penelitian, inovasi, serta pengalaman praktis dalam manajemen bencana. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara institusi pendidikan, pusat penelitian, dan lembaga pemerintah dalam membangun sumber daya manusia kebencanaan yang kompeten. Keberadaan Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan bersama TDMRC menjadi bagian penting dalam mendukung USK sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan sumber daya manusia kebencanaan di Aceh. Sinergi tersebut pada akhirnya diharapkan mampu memperkuat ekosistem pengurangan risiko bencana di Aceh serta mendorong terwujudnya kebijakan dan program pembangunan yang lebih berorientasi pada ketangguhan dan keberlanjutan. Melalui kolaborasi antara TDMRC USK, Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan USK, dan BPSDM Aceh, pengembangan kapasitas sumber daya manusia diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan kompetensi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun Aceh yang lebih siap, tangguh, dan adaptif terhadap risiko bencana.